Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Lampung mengadakan Diklat ToT dan Standarisasi Guru Nahwu Sharaf dan Kitab Kuning dengan Metode Manhaji. Selasa, (10/9). Diklat diadakan di Aula SQABM ini berlangsung lima hari dari 10-15 September 2019 diikuti 30 peserta dari asatidz tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Shuffah Hizbullah Al-Muhajirun, Kampung Nahwu, Kampung Kitab kuning.

Guna meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning dan berbahasa arab, Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Lampung mengadakan Diklat ToT  dan Standarisasi Guru Nahwu Sharaf dan Kitab Kuning dengan Metode Manhaji. Selasa, (10/9).

Diklat diadakan di Aula SQABM ini berlangsung lima hari dari 10-15 September 2019 diikuti 30 peserta dari asatidz tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

Mudir (pimpinan) Shuffah Hizbullah, Muflihuddin, Lc dalam sambutannya pada pembukaan menekankan target diklat ToT ini sebagai sarana menambah kader pengajar bahasa Arab dan Kitab Kuning.

“Sesuai dengan kurikulum yang terus kita kembangkan yakni bagaimana porsi kitab kuning dan bahasa Arab juga Al-Qur’an, Qiroah, Ulum syar’i dan kemasyarakatan bisa lebih meningkat lagi dari yang ada,” ujarnya.

Muflihuddin juga berharap, hasil dari training ini nantinya tidak hanya bermanfaat untuk santri saja tapi masyarakat luas mengingat Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah ini merupakan ponpes dengan konsep Pondok Masyarakat di mana masyarakat adalah bagian integral dari tarbiyah dimana masyarakat juga dilibatkan dalam mendidik santri juga masyarakat mendapatkan ilmu dari pengajar pondok.

“Harapannya ke depan peserta bisa menjadi mercusuar yang memberikan manfaat kepada Muslimin umumnya tidak hanya di Al-Fatah tapi di tempat lain. Bisa menjadi ikon Sumatera Kampung Nahwu, Kampung Bahasa Arab,” ujarnya.

Sementara, Pembina Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah, Abdullah Mutholib pada sambutan di kesempatan yang sama menekankan harapannya agar training semakin menambah keberkahan Shuffah Hizbullah ini.

“Kedepan sebagai pembina kami berharap kita semua menghayati yang sudah dirancang pendahulu kita. Saking semangatnya, Allahuyarham Imaam Muhyiddin Hamidy nekat membangun masjid sebesar ini. Nama nya pun An-Nubuwwah, merindukan fungsi sebagaimana masjid Nabawi. Setiap ba’da shalat di setiap pojok ada Masayikh duduk melingkar para penuntut ilmu, kita rindu itu,” katanya.

Hal ini kemudian disambut oleh pengajar Metode Manhaji, Joko Nursiyo, Lc, MHI dalam pengantarnya yang mengusulkan agar ditetapkan Shuffah Hizbullah Al-Muhajirun, Kampung Nahwu, Kampung Kitab kuning.

“Memang tidak langsung jadi, tapi kita tata rapih pelan-pelan. Kita bukan pengen viral, kita ingin khidmat, kompeten, mengabdi memahami bahasa dan kitab kuning,” katanya.

Sebab, kata Joko, khidmat kepada bahasa Arab sama dengan kihdmat kepada agama. Karena kunci kepada pemahaman terhadap Tafsir Al-Qur’an, Tafsir Hadits, Fiqh, Akhlak, Akidah itu tidak bisa dicapai kecuali dengan nahwu.

“Jika orang semangat sebarkan bahasa Inggris, Mandarin dengan berbiaya mahal, kenapa kita yang hijrah, sudah dicap Mukmin, Muslim, tidak mau belajar bahasa Arab yang seharusnya pertama kali diajarkan kepada Muslimin. Kalau tidak, kita tidak akan faham Al-Qur'an dan Sunnah,” ujarnya.

Selama pelatihan, para peserta diberikan 9 buku pokok pengajaran nahwo dan Sharaf untuk difahami dan diterapkan sesuai metode yang didapat, sebab menurut Joko untuk bisa berbahasa perlu metode yang tepat dan suasana yang menyenangkan, sehingga mudah difahami santri, inilah metod Manhaji.

Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Al-Muhajirun Lampung pada tahun ajaran baru 2019/2020 dengan kepemimpinan yang baru ini terus melakukan penyempurnaan-penyempurnaan kurikulum yang ada sehingga betul-betul dapat menghasilkan santri dengan kemampuan agama yang mumpuni sebagai prioritas dengan kelengkapan ilmu sosial dan sainsnya.

Ditulis ulang dari minanews.net
Share To:
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Post A Comment: