Berita dan Kegiatan

Suasana Haflah Tasyakur Alumni Angkatan 21 
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Artinya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Q.S. Al-Anfal [8]: 60)

Ketika seorang pejuang (mujahid) yang kaya meninggal dunia, banyak anak-anaknya terbengong-bengong sambil tersadar bahwa selama ini mereka hanyalah anak biologis terhadap ayahnya yang meninggal tersebut. Ternyata orang yang datang ta’ziyah dari berbagai tempat lebih kenal kepada almarhum ayahnya dari pada mereka, anak-anaknya sendiri.

Kenapa bisa demikian? Karena sebagai seorang pejuang mereka menghabiskan waktu, fikiran, tenaga, bahkan harta kekayaan, untuk membiayai perjuangan demi tegaknya agama. Di mana-mana dikenal sebagai pejuang yang tak kenal lelah, dicintai dan disegani oleh banyak pejuang yang lain.

Namun, pada saat orang tuanya berjuang, anak-anak mereka tidak ada yang mau mendekat untuk melibatkan diri/dilibatkan dalam mempersiapkan sebagai penerus perjuangan orang tuanya. Mereka menganggap orang tuanya dengan perjuangan tersebut hanya mengajaknya dalam kesulitan dan kesulitan (rekoso dalam bahasa Jawa). Padahal mereka menginginkan orang tuanya dengan kekayaan yang dimilikinya untuk hidup bernikmat dan bermewah, secara hedonis (kenikmataan harta benda). Atau pada hakikatnya mereka menempatkan diri sebagai anak biologis. Bukan sebagai anak pejuang.

Kisah Ibu Para Syuhada: Al-Khansa Binti ‘Amru

Al-Khansa terkenal dengan gelarnya sebagai ibu para syuhada. Al-Khansa lahirkan pada zaman jahiliyah dan tumbuh besar di tengah suku bangsa Arab yang mulia, yaitu Bani Mudhar. Tak heran, banyak sifat mulia dalam diri Al-Khansa. Al-Khansa adalah orang yang fasih, mulia, murah hati, tenang, berani, tegas, tidak kenal pura-pura, suka berterus terang.

Selain keutamaan itu, beliau pun pandai bersyair. Beliau terkenal dengan syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang yang dikasihinya yang telah tiada mendahului ke alam baka. Terutama kepada kedua saudara lelakinya, yaitu Mu’awiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia.

Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melalui pembinaan dan pendidikan tangan-tangannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Dan Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada. Hal itu disebabkan dorongannya terhadap keempat anak lelakinya yang telah gugur syahid di medan Qadisiyah.

Sebelum peperangan bermula, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah Al-Khansa. Di antara keempat putranya telah terjadi perebutan kesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakah yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka. Keempatnya saling tunjuk menunjuk kepada yang lainnya untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawan musuh fi sabilillah. Rupanya, pertengkaran mereka itu telah terdengar oleh ibunda mereka, Al-Khansa. Maka Al-Khansa telah mengumpulkan keempat anaknya, dan berkata,

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telah berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan dari seorang perempuan yang sama. Tidak pantas bagiku untuk mengkhianati ayahmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng arang di kening keluargamu. Jika kalian telah melihat perang, singsingkanlah lengan baju dan berangkatlah, majulah paling depan niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akhirat. Negeri keabadian.

Wahai anakku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah. lnilah kebenaran sejati, maka untuk itu berperanglah dan demi itu pula bertempurlah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya engkau dianugrahi hidup.”

Pemuda-pemuda itu pun keluar menuju medan perang. Mereka berjuang mati-matian melawan musuh, sehingga banyak musuh yang terbunuh di tangan mereka. Akhirnya nyawa mereka sendirilah yang tercabut dari tubuh-tubuh mereka. Ketika ibunda mereka, Al-Khansa, mendengar kematian anak-anaknya dan kesyahidan semuanya, sedikit pun ia tidak merasa sedih dan kaget. Bahkan ia telah berkata, “Alhamdulillah yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah segera memanggilku dan berkenan mempertemukan aku dengan putra-putraku dalam naungan Rahmat-Nya yang kokoh di surga-Nya yang luas.”
Al-Khansa telah meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan ra., yaitu pada tahun ke-24 Hijriyah. Inilah contoh nyata keluarga sebagai basis pendidikan ruhul jihad atau basis pendidikan anak sebagai  anak pejuang.

Pengertian anak pejuang adalah anak yang disiapkan orang tuanya, dan menyiapkan dirinya untuk memahami dan mempersiapkan diri dengan segala persiapan untuk dapat meneruskan perjuangan orang tuanya. Sehingga ketika orang tuanya meninggal dia siap tampil sebagi penerus dan penyempurna perjuangan orang tuanya. Mereka sadar benar, dengan cara itulah mereka baru benar-benar memuliakan orang tuanya, karena orang tuanya terus mendapat aliran pahala dari anak-anaknya karena anak-anaknya meneruskan perjuangan demi cita-cita mulia orang tuanya.

Bagaimana agar anak-anak kita siap menjadi anak-anak pejuang? Banyak cara yang dapat ditempuh untuk cara tersebut, antara lain:

Pertama, doa (cita-cita) orang tua sebelum  kelahirannya .

Jauh sebelum  kelahiran anaknya, orang tua mestinya sudah memohon kepada Allah agar dikaruniai keturunan yang meneruskan perjuangannya di zamannya kelak. (Tadaburi Al Quran Surah Maryam : 5-6),

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِن وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا
يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
5. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugrahilah aku seorang anak dari sisiMu,
6. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. (Qs. Maryam [19]: 5-6)

Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat di atas, antara lain : Nabi Yakub/ para Nabi khawatir kalau generasi penerusnya menjadi generasi penerus yang buruk. Lalu para Nabi berdoa kepada Allah agar anak -anaknya menjadi penerus perjuangan agama. Jika mereka menjadi nabi (penerus perjuangan agama), sudah pasti Allah akan memberikan rizeki yang mulia demi kemuliaan agama.

Dari ayat tersebut dapat dipetik pelajaran agar anak yang Allah amanatkan kepada kita menjadi anak pejuang, maka sejak sebelum anak lahir kedua orang tuanya selalu bercita-cita dan berdoa memiliki anak yang bisa menjadi penerus perjuangan penegak agama  yang mulia.

Kedua, anak diberi nama  yang baik

Tentang nama, Rasulullah sangat besar perhatiannya sehingga beliau mengajarkan dan menganjurkan untuk memberi nama anak dengan nama yang baik. Dan menghindari nama-nama yang tidak baik. Nama yang baik misal: Abdullah, Abdurrahman, Abdul Hamid, serta nama-nama Nabi, dll. Dalam hal nama ini Rasul banyak mengubah nama para sahabat, menjadi nama yang lebih baik.

Ketiga, diberikan pendidikan sebagai pejuang

Untuk pendidikan anak, Rasulullah mewajibkan kepada orang tua untuk mendidik anaknya dengan akhlaqul karimah sekaligus memiliki kekuatan yang menggetarkan musuh (perhatikan Q.S Al-Anfal [8] : 60). Seperti kita ketahui, antar akhlaq yang baik dan Al Quran sangat erat hubungannya. Ketika ditanyakan kepada Aisah ra, “Bagaimanakah akhlak Rasulullah itu ?” Aisyah ra menjawab, “Akhlaq Rasulullah adalah Al Quran,” jawab Sayidatina ‘Aisyah ra. Karena itulah mutlak pendidikan akhlaq dan Al Quran mesti diprioritaskan. Para alim dan pemimpin Islam, hampir semuanya diberikan pendidikan Al Quran dahulu baru yang lain.  Wajib pula dilatih sibahah (renang), rimayah (memanah) juga mengendalikan kuda. Rasul bersabda yang artinya “ muslim yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah”.

Keempat, Membangun Lingkungan yang baik

Lingkungan pendidikan adalah Keluarga, sekolah, masyarakat. Alhamdulillah kita telah mendapatkan hidayah Allah hidup berjamaah. Hidup kita terpimpin dengan pimpinan Allah, Rasulnya dan Imamul Muslimin. Tarbiyyah untuk menyiapkan generasi pejuang juga telah dirintis dengan sejumlah prestasi dan kekurangannya .Namun demikian dalam prakteknya masih banyak para ikhwan yang tidak merasa nyaman hidup secara berjamaah. Buktinya mereka lebih suka dipimpin pihak lain dibanding oleh imam dan para pembantu Imam.  Mereka lebih suka mangkir karena lebih mengutamakan dipimpin pihak lain.

Suasana rumah tangga belum sepenuhnya mencerminkan dinamika keterpimpinan Allah, Rasul dan Imam. Sekolah tempat belajar anak-anak kita lebih banyak kita pilih sekolah yang seakan-akan menjanjikan lapangan kerja di masa depannya. Mereka memilih mengorbankan pendidikan al-qur’an pendidikan khilafah, dan pendidikan perjuangan.

Begitu pula lingkungan di lingkungan masing-masing ada pembinaan melalui ta’lim riyasah. Tapi mereka yang hadir tidak lebih dari 50% selebihnya mereka tidak hadir bukan karena alasan Syar’i. Lebih suka memilih kegiatan yang lain, sementara yang lain tidak mencipkatan suasana pendidikan al-qur’an apalagi pendidikan perjuangan. Kalau di sana-sini orang tuanya hadir, tapi mereka tidak mengajak anaknya. Sehingga seakan-akan tak ada hubungannya, sebagai usaha membangun lingkungan yang islami. Padahal ketika seseorang akan membeli rumah, kalimat yang sangat bijak mengatakan, “Pilih perhatikan tetangganya dahulu, sebelum membeli rumahnya.”

Kelima, Pelatihan dan Partisipasi

Sesungguhnya jihad adalah puncak tertinggi dalam islam. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya, “Dan puncak islam yang tertinggi adalah jihad.” (HR. Ahmad dan Attirmidzi, Hasan). Puncak tak akan dapat didaki kecuali oleh manusia yang benar-benar tangguh dan pilihan. Orang yang lemah, tua renta dan yang lumpuh tak akan dapat mendaki ketinggiannya. Dalam sebuah syair dikatakan :

Kekuasaan itu datang dengan kadar keteguhan
Penghormatan itu datang menurut kadar kemuliaan
Yang kecil tampak besar di mata orang yang bernyali kecil
Yang besar tampak kecil di mata orang yang bernyali besar

Kewajiban jihad yang turun dari langit tak ada yang mampu memikulnya kecuali jiwa-jiwa yang telah dipersiapkan oleh Allah, dijaga, dipelihara dan dilindungi-Nya. Tanpa itu siapapun akan terpuruk di pertengahan jalan, meskipun memiliki fisik yang kuat. Di mana mereka dipersiapkan?

Yang pertama-tama adalah di lingkungan keluarga. Seperti telah dibahas di muka akankah anak kita kita persiapkan sebagai anak biologis atau anak pejuang (mujahid)?

Di dalam surah Al Furqon 74-76 Allah gambarkan calon penghuni surga selalu berdoa, “Ya Tuhan kami anugerahkan kepada kami istri dan anak cucu yang menyejukkan pandangan mata kami dan jadikanlah kami pimpinan orang-orang yang bertaqwa.” Dalam tafsir yang dimaksud menyejukkan pandangan mata kami adalah mereka taat kepada Allah, tak hanya dalam urusan sholat dan puasa tetapi termasuk dalam jihad fi sabilillah berjuang menegakkan kalimah Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kepada kita untuk mengajari anak kita, berenang, naik kuda dan memanah. Untuk apa kalau bukan dalam mempersiapkan mereka menghadapi jihad fi saabilillah.

Kalau dalam kenyataan sehari-hari anak-anak kita diajak hadir ta’lim, memikirkan dan berjuang menegakkan khilafah enggan, tak mau bahkan memilih yang lain dengan berbagai alasan yang tidak syar’i jangan buru-buru salahkan mereka. Tetapi instrospeksi dulu selama ini kita siapkan untuk apa mereka. Kita fasilitasi dengan segala kemampuan untuk arah kemana mereka? Jangan terlambat......

Subhanallah, sudah sangat populer di kalangan muslimin bahkan diabadikan di Ka’bah dan sekitarnya, bagaimana Nabi Ibrahim as. Mempersiapkan Nabi Ismail, sebagai penerusnya. Nabi Ibrahim sangat dekat  dengan anaknya Ismail, dengan bukti ketika membangun ka’bah, Ismail ikut serta. di sana ada maqam (tempat berdiri) Ibrahim dan tempat Ismail. Karena kesungguhan secara terus menerus dalam melatih dan mengikut sertakan Ismail dalam perjuangan, maka ketika Allah memerintahkan untuk menyembelih Ismail, jawab Ismail “Laksanakan wahai ayahku, apa yang diperintahkan kepadamu oleh Allah. Mudah-mudahan engkau dapati aku termasuk orang yang sabar.”

Hal ini menandakan pentingnya mengikut sertakan anak dalam menghayati perjuangan menegakkan agama Allah.

Keenam, Waspadai prilaku menyimpang sedini mungkin.

Dalam Quran surat Al Tahrim Allah mengingatkan yang artinya, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Hari ini siapa yang tak khawatir akan nasib anaknya kelak. Budaya Iblis membanjiri negeri kita. Hampir tak ada ruang yang terbebas dari padanya. Pergaulan bebas, narkoba, hidup santai, pejuang dan pedagang syahwat merdeka, difasilitasi dengan berbagai kemasan hiburan ada di mana-mana. Namun beruntung bagi muslim karena masih ada Al Quran yang akan mengawal kita juga anak kita. Namun jumlah mereka sangat sedikit jika dibanding yang lain.

Gambaran kegagalan seorang dalam membina anak, terdapat pada kisah Nabi Nuh dan Putranya (Kan’an). Ketika azab Allah, berupa air bah, dipanggillah Kan’an oleh nabi Nuh. Ia justru menolak panggilannya ia merasa sok cerdas, seraya bertekad untuk menyelamatkan diri dengan menaiki bukit. Namun nabi Nuh tahu, hal itu tidak akan menyelamatkan jiwanya. Karena itu nabi Nuh berdoa kepada Allah untuk berkenan menyelamatkan anaknya. Allah menjawab, “itu bukan lagi keluargamu karena dia bukan orang yang ahli beramal shaleh (meningkari agama, perjuangan orang tuanya)”.

Pelajaran dari kisah ini, jika kita ingin memiliki anak pejuang, sedini mungkin harus dihindarkan dari prilaku menyimpang yang menjerumuskan dari agamanya.

Kesimpulan

Anak kita akan menjadi satu di antara dua pilihan, yaitu: Anak biologis dan anak pejuang. Untuk menjadi anak biologis kita jaga kesehatannya, makan minum dan tidurnya. Kita lengkapi sarana untuk rekreasi dan memenuhi selera dan kesukaannya. Mereka sehat, gemuk cerdas, terampil untuk kelangsungan sebagai makhluk biologis saja. Hasan Al Bana mengibaratkan sebagai ayam pedaging atau petelor, yang siap dieksploitir (disembelih) sang juragan kapan saja ia menghendakinya.

Untuk menjadi anak pejuang, basisnya adalah keluarga. Sedini mungkin keluarga harus menumbuhkan ke dalam jiwa anak kesadaran sebagai anak pejuang. Dibekali Aqidah yang benar, ibadah yang sempurna, akhlaq yang terpuji secara fisik dilatih untuk menjadi kuat, bela diri, renang, memanah, naik kuda, tahan banting dan dilibatkan  dalam berbagai kegiatan perjuangan. Dengan usaha yang sungguh-sungguh, dan memohon pertolongan Allah, dzuriyyah kita akan sanggup menjadi penerus dan pewaris perjuangan para Nabi,

amiin.
Wallahu ‘alam bissawab

Oleh : Ahmad Zubaidi Ibnu Ardani (Amir Majelis Tarbiyah Pusat Jamaah Muslimin (Hizbullah))
Disampaikan pada acara Haflah Tasyakur Angkatan ke-21 Pesantren Al-Fatah
أحدث أقدم