BANDAR LAMPUNG — Sebanyak 31 santri tahfidz Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Lampung mengikuti Studium Generale bertema “Bela Negara di Era Digital: Meneguhkan Solidaritas Kebangsaan dan Peran Generasi Muda dalam Menjaga Ketahanan Bangsa” di Balai Keratun, Kantor Gubernur Lampung, Ahad (27/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah Bin Mas’ud (STISA ABM) Online tersebut diikuti ratusan peserta dari kalangan sivitas akademika. Keikutsertaan para santri tahfidz menjadi kesempatan untuk menambah wawasan kebangsaan sekaligus memahami peran generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan informasi.
Studium Generale menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kaskoarmada RI Laksamana Muda TNI Heri Triwibowo, S.E., M.Si., mewakili Pangkoarmada RI; Dosen STISA ABM Online Dr. (Cand) Rd. Roro Atmim Nurona, M.Pd.; serta Kabid Poldagri Badan Kesbangpol Provinsi Lampung Heriza Kurniawan, S.H., M.IP., mewakili Wakil Gubernur Lampung.
Dalam pemaparannya, Laksamana Muda TNI Heri Triwibowo mengajak generasi muda menjadi bagian dari pembela negara di ruang digital melalui empat langkah sederhana, yakni menyaring informasi sebelum membagikannya, memperkuat literasi digital, merawat persaudaraan, serta menjadikan nilai Al-Qur’an dan Pancasila sebagai pedoman dalam bersikap di ruang digital.
Menurutnya, generasi muda harus mampu mengenali berita bohong, ujaran kebencian dan propaganda daring yang berpotensi menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
Sementara itu, Dr. (Cand) Rd. Roro Atmim Nurona menekankan lima ketahanan yang perlu dimiliki generasi muda sebagai bagian dari ketahanan nasional, meliputi ketahanan intelektual, moral, sosial, digital, serta ekonomi dan inovasi.
Mahasiswa dan generasi muda diharapkan mampu berpikir kritis, memverifikasi sumber informasi, menggunakan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab, menjaga integritas, menghargai perbedaan, serta terus mengembangkan kemampuan dan inovasi.
Pembina Utama STISA ABM Online, Dr. (Cand) Yakhsyallah Mansur, M.A., turut menekankan pentingnya menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Menurutnya, perbedaan suku, bangsa maupun nasab tidak boleh menjadi ukuran kemuliaan seseorang.
“Manusia mempunyai perbedaan nasab, tetapi itu tidak boleh menjadi ukuran kemuliaan. Ukuran kemuliaan adalah ketaatan dan ketakwaan kepada Allah,” ujarnya.
Keikutsertaan 31 santri tahfidz Ponpes Shuffah Hizbullah dalam Studium Generale tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan para santri. Tidak hanya tumbuh sebagai generasi penghafal Al-Qur’an, mereka juga diharapkan memiliki kecakapan digital, kepedulian sosial, wawasan kebangsaan, serta mampu mengambil peran positif dalam menjaga persatuan dan ketahanan bangsa.
