Berita dan Kegiatan

Senin petang, 2 Februari 2026, selepas salat Magrib di Masjid An Nubuwah. Jamaah baru saja merapikan shaf, dzikir mulai lirih terdengar. Di tengah suasana tenang itu, sebuah peristiwa kecil terjadi—namun dampaknya terasa besar.

Seorang anak lelaki yang berdiri tepat di shaff depan saya, menghampiri dengan langkah ragu namun penuh adab. Wajahnya menunduk, suaranya pelan namun jelas.

“Ustadz, afwan… tadi kaki saya kena peci ustadz.”

Saya terdiam sejenak. Refleks saya menjawab, “Masya Allah, nggak apa-apa, Nak. Nggak apa-apa." Saya menjawab sambil mengingat-ingat apakah tadi kakinya kena kepala saya.

Sayapun lupa, entah karena terlalu khusyuk sholat, atau karena fikiran ke mana-mana mikirin tanggal muda yang cepat sekali menjadi tua. 😁

Percakapan singkat itu mungkin tak sampai satu menit. Namun satu kata—afwan—telah menjelaskan banyak hal. Tentang rumah tempat ia dibesarkan. Tentang nilai yang ditanamkan sejak dini. Tentang lembaga pendidikan yang membentuknya.

Di usia yang masih belia, dia sudah memahami satu hal mendasar: mengakui kesalahan, meski kecil, dan meminta maaf tanpa disuruh. Tidak ada yang memarahinya. Tidak ada yang melihat kejadian itu, bahkan sayapun sempat tak ingat. Namun hatinya bergerak oleh akhlak.

Inilah buah dari pendidikan orang tua yang tidak hanya mengajarkan anak menjadi “pintar”, tetapi juga menjadi baik. Orang tua yang tidak sekadar sibuk memenuhi kebutuhan materi, tetapi menghadirkan teladan, membiasakan adab, dan menanamkan rasa tanggung jawab moral.

Lebih dari itu, ini juga cermin dari keberanian orang tua dalam memilih lembaga pendidikan yang tepat. Pesantren—dengan seluruh kesederhanaannya—sering kali tidak menjanjikan kemewahan fasilitas, tetapi menawarkan sesuatu yang jauh lebih mahal: pembentukan karakter, akhlak, dan sikap hidup.

Di pesantren, anak tidak hanya belajar membaca kitab, tetapi belajar menghormati manusia. Tidak hanya hafal doa, tetapi peka terhadap kesalahan diri. Tidak hanya disiplin waktu, tetapi juga disiplin hati.

Peristiwa kecil ini mengingatkan kita:

bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak selalu diukur dari piagam, peringkat, atau gelar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana—seorang anak yang berani berkata maaf.

Dan dari satu kata itu, kita belajar bahwa masa depan yang beradab tidak lahir secara kebetulan. Ia dibentuk, dipilih, dan diperjuangkan—oleh orang tua yang sadar bahwa akhlak adalah warisan terbaik bagi anak-anaknya.

Di akhir percakapan saya bertanya, sekadar basa-basi yang hangat.

“Siapa namamu?”

“Abdi.”

“Dari mana?”

“Dari Muhajirun.”

“Masya Allah, anaknya siapa?”

“Anaknya Bu Nina.”

"Masya Allah anaknya Nina."

Rupanya dia anak dari teman sekolah saya semasa Aliyah di Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Lampung Siti Aminah, alumni Frame 05 yang saat ini anaknya pun disekolahkan di pesantren yang sama. 

Semoga kita, setiap orang tua kelak dipertemukan dengan kebahagiaan tertinggi: melihat anak-anaknya tumbuh berakhlak mulia, rendah hati, dan kehadirannya menjadi manfaat serta kebaikan bagi siapa pun di sekitarnya. (SDH)

أحدث أقدم