Berita dan Kegiatan

 إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam, yang telah melimpahkan nikmat iman dan Islam kepada kita semua. Dialah Allah yang mensyariatkan ibadah haji dan kurban sebagai syiar agung penghambaan, ketakwaan, persaudaraan, dan kepedulian sosial bagi umat manusia. 

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Di pagi yang cerah ini, khatib berwasiat kepada diri khatib dan kepada seluruh jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, dengan ketakwaan itulah Allah ﷻ akan menerima semua amal kita.

Allah ﷻ berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Umat Islam di berbagai penjuru negeri pada hari ini menyambut Idul Adha dengan gema takbir, tahlil, dan tahmid sebagai ungkapan syukur kepada Allah ﷻ. Sementara itu, jutaan saudara kita di Tanah Suci Makkah, Arafah, dan Mina sedang menunaikan rangkaian manasik haji dengan penuh kekhusyukan.

Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, dari beragam bangsa dan suku, dengan latar belakang yang berbeda-beda, lalu bersatu dalam kepasrahan dan penghambaan kepada Allah ﷻ. Mereka meninggalkan atribut duniawi, menanggalkan perbedaan, status sosial dan kebanggaan pribadi dan golongan, untuk berdiri sama di hadapan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, untuk menunaikan ibadah haji, memenuhi panggilan Allah ﷻ dengan penuh ketundukan dan keikhlasan seraya mengumandangkan talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيْكَ لَكَ

“Kami memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, kami memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan seluruh kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Jamaah shalat Idul Adha yang disayang Allah ﷻ

Pada kesempatan ini marilah kita merenungkan firman Allah ﷻ dalam Surah Ali ‘Imran ayat 96–97, Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ ۝ فِيهِ آيَاتٌۢ بَيِّنَٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ 

“Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya Maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya niscaya dia aman. Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari seluruh alam.”

Ayat ini mengandung pelajaran besar antara lain tentang sejarah Ka’bah dan Masjid Al-Aqsha, hikmah syariat ibadah haji, dan keteladanan dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Pertama: Hubungan Ka’bah dan Masjid Al-Aqsha

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa Ka’bah adalah rumah ibadah pertama yang dibangun di muka bumi agar manusia beribadah kepada Allah ﷻ. Sebagian ulama menjelaskan bahwa Ka’bah telah ada sejak Nabi Adam ‘alaihissalam, lalu dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam atas perintah Allah ﷻ.

Allah berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ 

“Dan ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail.” (QS. Al-Baqarah: 127).

Ka’bah bukan sekadar bangunan batu, tetapi simbol tauhid, pusat ibadah, kiblat kaum muslimin, dan lambang persatuan umat Islam sedunia. Setiap hari jutaan kaum muslimin menghadap ke arah yang sama dalam shalat mereka.

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa keberkahan Ka’bah meliputi keberkahan agama, pahala ibadah, keamanan, serta keberkahan dunia dan akhirat. Karena itu, menjaga kehormatan Ka’bah berarti menjaga tauhid, persatuan umat, dan syariat Islam itu sendiri.

Sedangkan Imam Jalalain menjelaskan bahwa Ka’bah diberkahi karena dilipatgandakannya pahala ibadah di sana dan menjadi petunjuk bagi manusia dan jalan ibadah kepada Allah ﷻ.

Imam Jalalain juga menyebutkan bahwa Masjid Al-Aqsa dibangun setelah Ka’bah dengan selang waktu empat puluh tahun, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ.

Dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلُ؟ قَالَ: الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى، قُلْتُ: كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: أَرْبَعُونَ سَنَةً

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun di bumi?’ Beliau menjawab: ‘Masjidil Haram.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian masjid apa?’ Beliau menjawab: ‘Masjid Al-Aqsha.’ Aku bertanya: ‘Berapa jarak waktu antara keduanya?’ Beliau menjawab: ‘Empat puluh tahun.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Keberkahan Masjid Al-Aqsha disebut langsung oleh Allah ﷻ  dalam Al-Qur’an pada peristiwa Isra’ Mi‘raj, Allah ﷻ berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ 

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya.”. (QS. Al Isra’: 1)

Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi, keberkahan yang dimaksud ialah mencakup keberkahan agama dan dunia. Baitul Maqdis diberkahi karena di sana diutus banyak nabi dan rasul, menjadi tempat turunnya para malaikat, serta Allah ﷻ melimpahkan keberkahan Baitulmaqdis dengan tanah yang subur, hasil bumi, buah-buahan, dan berbagai tanaman yang bermanfaat.

Karena itu, menjaga kehormatan Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsa merupakan bagian dari menjaga syiar Allah dan warisan para nabi.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Kedua: Hikmah syariat ibadah haji.

Ma‘asyiral muslimin yang disayang Allah ﷻ,

Selanjutnya Allah ﷻ berfirman:

…وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا…

“…Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh perjalanan ke sana…”

Ayat ini menunjukkan bahwa haji adalah kewajiban besar bagi setiap muslim yang mampu.

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud istitha‘ah (kemampuan) dalam ibadah haji adalah kemampuan fisik, harta, keamanan perjalanan, serta adanya sarana dan kesempatan untuk menunaikannya. Artinya, seseorang memiliki kesehatan dan biaya yang cukup, perjalanan yang aman, serta tidak menelantarkan kewajiban terhadap keluarganya.

Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan iman dan ketundukan kepada Allah ﷻ. Haji mengajarkan tauhid, persaudaraan, kesabaran, pengorbanan, disiplin, dan kepedulian sosial.

Setiap rangkaian ibadah haji memiliki makna yang mendalam sebagai bekal bagi seluruh umat Islam. 

Syariat Ihram mengajarkan kesadaran sebagai hamba Allah dan persaudaraan sesama muslim, bahwa kemuliaan bukan pada status sosial, tetapi pada ketakwaan dan kemanfaatan.  

Wukuf di Arafah adalah puncak taubat sekaligus momentum mengingat kembali tugasnya sebagai khalifah fil ardl, untuk menjadi agen perubahan.

Mabit dan melontar jumrah adalah proses membersihkan jiwa dari penyakit hati dan hawa nafsu. 

Thawaf menanamkan integritas dan kecintaan hanya kepada Allah ﷻ, kedisplinan dan ketertiban. Jamaah bergerak mengelilingi Ka’bah dengan tertib sebagai simbol keteraturan hidup dalam syariat.

Sa‘i antara Shafa dan Marwah mengingatkan perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk Nabi Ismail ‘alaihissalam. Dari sini umat Islam belajar tentang ikhtiar, kesabaran, dan larangan berputus asa dari rahmat Allah ﷻ. Sa’i mengajarkan kesalehan bukan diam, tetapi bergerak aktif dalam menolong sesama.  

Sedangkan tahallul dan kurban mengajarkan kesyukuran, pengorbanan, dan kepedulian sosial kepada sesama.

Dari seluruh rangkaian manasik itulah lahir haji yang mabrur, yaitu haji yang menghadirkan perubahan dalam iman, akhlak, dan kepedulian sosial. Semakin dekat seseorang kepada Allah ﷻ, semakin lembut hatinya kepada sesama manusia; semakin tekun ibadahnya, semakin dermawan dan gemar menolong orang lain. 

Maka tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Terkait makna haji mabrur, Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh para sahabat tentang tanda dan hakikatnya. Lalu beliau menjawab:

إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ

“Memberi makan dan berkata baik.” (HR. Ahmad)

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ketiga: Pelajaran dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Ma‘asyiral muslimin yang disayang Allah ﷻ,

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah teladan tauhid, pengorbanan, dan ketaatan total kepada Allah ﷻ. Dia berfirman:

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya dengan sempurna. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku ini tidak berlaku bagi orang-orang zalim.’” (QS. Al-Baqarah: 124)

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mencapai derajat imam karena kesempurnaan tauhid, kesabaran, pengorbanan, dan ketaatannya kepada Allah ﷻ.

Di antara pelajaran besar dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah keteguhan tauhid. Beliau menghancurkan berhala dan menolak kesyirikan meskipun harus menghadapi kaumnya sendiri.

Beliau juga mengajarkan ketaatan tanpa syarat kepada Allah ﷻ. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di lembah tandus Makkah, beliau taat menjalankan perintah Rabb-nya. Demikian pula Siti Hajar, dengan penuh iman dan tawakal, rela ditinggalkan setelah mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah ﷻ.

Begitu juga ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diperintahkan menyembelih Ismail, keduanya tunduk dan berserah diri kepada Allah. Nabi Ismail ‘alaihissalam berkata:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ 

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Sesuai dengan namanya, Ismail berasal dari kata “isma‘” yang berarti “mendengar” dan “il” yang bermakna “Allah”, bermakna “Allah mendengar”, mendengar doa-doanya. 

Nabi Ismail ‘alaihissalam adalah sosok yang senantiasa mendengar dan taat kepada perintah Allah ﷻ, sebagaimana tampak dalam kesabaran dan ketundukan beliau saat diperintah untuk disembelih.

Demikian juga, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, bukannya beliau tidak mencintai istri dan anaknya, melainkan cinta mereka kepada Allah ﷻ berada di atas segala-galanya. Inilah hakikat Islam, yaitu tunduk dan berserah diri kepada Allah meskipun berat bagi jiwa dan hawa nafsu.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengajarkan pentingnya membangun keluarga yang saleh. Beliau berdoa:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian keturunanku orang yang tetap melaksanakan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Idul Adha juga mengajarkan syariat berkurban kepada kita, bahwa cinta kepada Allah harus lebih besar daripada cinta kepada harta, jabatan, dan dunia. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih sifat bakhil, egoisme, dan cinta dunia yang berlebihan.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma‘asyiral muslimin yang disayang Allah ﷻ,

Syariat haji dan kurban mengajarkan kepada kita bahwa umat Islam adalah satu umat yang dipersatukan oleh iman dan tauhid. Di tanah suci seluruh manusia mengenakan pakaian ihram yang sama; tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, bangsa Arab maupun non-Arab. Semua berdiri menghadap Allah ﷻ dengan kalimat talbiyah yang sama. Inilah gambaran agung bahwa Islam membangun umat yang bersatu di bawah ikatan akidah dan kepemimpinan wahyu.

Tauhid dan kesatuan umat inilah yang para nabi dakwahkan kepada umat manusia, firman Allah ﷻ:

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ ۝١٣

“Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura: 13)

Ketika menjelaskan kalimat اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ  Ibnu Katsir mengatakan,

وَصَّى اللَّهُ تَعَالَى جَمِيعَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِالِائْتِلَافِ وَالْجَمَاعَةِ، وَنَهَاهُمْ عَنِ الْإِفْتِرَاقِ وَالْإِخْتِلَافِ

“Allah ﷻ telah memerintahkan kepada seluruh para nabi ‘alaihimush shalātu was salām untuk rukun dan berjamaah, dan melarang mereka berpecah belah dan berselisih.”

Hal ini sebagaimana Allah ﷻ perintahkan dalam firman-Nya yang lain:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا …

“Dan berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali agama Allah seraya berjama’ah, dan janganlah bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu kalian bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara…” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Adapun memecah belah agama, fanatik terhadap golongan, serta meninggalkan persatuan umat merupakan sifat yang tercela dan menyerupai perbuatan orang-orang musyrik. Allah ﷻ berfirman:

…وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 31–32)

Maka Rasulullah ﷺ memberi jalan selamat agar terhindar dari perpecahan umat. Beliau bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ

“Hendaklah kalian berpegang kepada jamaah dan jauhilah perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, dan ia lebih jauh dari dua orang (yang bersama dalam jamaah).” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya.)

Dalam riwayat lain disebutkan:

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Berjamaah itu rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.” (HR. Ahmad).

Karena itu, Idul Adha harus menjadi momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah, mempererat persaudaraan, menghilangkan permusuhan, serta membangun kepedulian terhadap sesama muslim. Demikian pula ibadah kurban mendidik kaum muslimin agar memiliki jiwa berbagi dan kepedulian sosial yang tinggi. Islam tidak mengajarkan umatnya hidup sendiri menikmati nikmat yang Allah berikan, sementara saudara-saudaranya kelaparan dan kesusahan.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma‘asyiral muslimin yang disayang Allah ﷻ,

Pada hari yang mulia ini, hendaknya kita mengingat saudara-saudara kita yang tertindas di Palestina, Kashmir, Yaman, Sudan, dan negeri-negeri lainnya. Luka mereka adalah luka umat Islam seluruhnya. Maka doa, bantuan, dan kepedulian kepada mereka merupakan bagian dari tanggung jawab iman dan persaudaraan Islam.

Nilai-nilai haji di bulan Dzulhijjah mengajarkan persatuan, pengorbanan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama. Seluruh kaum muslimin berhimpun dalam satu kiblat dan satu kalimat tauhid, menunjukkan bahwa umat Islam adalah satu tubuh yang dipersatukan oleh aqidah. Karena itu, semangat haji seharusnya melahirkan solidaritas umat dalam membela saudara-saudara muslim yang tertindas serta menjaga kehormatan Masjid Al-Aqsa dan negeri-negeri kaum muslimin. Dalam sebuah hadis Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta, kasih sayang, dan kepedulian mereka bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga melalui ibadah haji dan kurban, Allah ﷻ mempersatukan hati kaum muslimin, menguatkan ukhuwah Islamiyah, saling membatu memperbaiki keadaan umat, mengangkat penderitaan saudara-saudara kita yang tertindas, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa, peduli, serta istiqamah di atas jalan tauhid hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Akhirnya, marilah kita berdoa, dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan menjernihkan pikiran. Semoga Allah   memperkenankan doa hamba-hamba-Nya yang ikhlas.

الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا، وَسَلَّمَ اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينًا،

Segala puji bagi Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, penutup para nabi, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوبُ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، 

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya.

اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِهُدَاكَ، وَانْصُرْنَا لِنُصْرَةِ دِينِكَ، وَارْضَ عَنَّا بِرِضَاكَ، وَتَوَلَّنَا بِرَحْمَتِكَ، وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا، وَارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.

“Ya Allah, berilah kami petunjuk dengan petunjuk-Mu, tolonglah kami untuk menolong agama-Mu, ridhailah kami dengan ridha-Mu, lindungilah kami dengan rahmat-Mu, dan jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata. Berilah kami kesehatan dan maafkanlah kami. Karuniakanlah kepada kami rezeki yang baik lagi penuh berkah. Berkahilah apa yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, dan lindungilah kami dari keburukan ketetapan-Mu. Sesungguhnya Engkau menetapkan keputusan dan tidak ada yang dapat menetapkan keputusan atas-Mu. Tidak akan hina orang yang Engkau lindungi, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Berkah Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّنَا حَجًّا مَبْرُورًا، وَأُضْحِيَّتَنَا قُرْبَانًا مَقْبُولًا عِنْدَكَ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي نِيَّاتِنَا وَأَعْمَالِنَا.

Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang mabrur, dan kurban kami sebagai kurban yang Engkau terima. Ampunilah dosa-dosa kami, terimalah taubat kami, dan karuniakanlah kepada kami keikhlasan dalam niat dan amal-amal kami.

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوفَ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَأَزِلْ عَنْهُمْ الْفُرْقَةَ وَالشِّقَاقَ، وَاجْعَلْنَا يَا رَبَّنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْعَوْنَ لِخَيْرِ هَذِهِ الأُمَّةِ وَوَحْدَتِهَا.

Ya Allah, satukanlah barisan kaum muslimin, himpunkanlah hati dan ucapan mereka di atas kebenaran dan petunjuk. Hilangkanlah dari mereka perpecahan dan perselisihan. Jadikanlah kami, wahai Rabb kami, termasuk orang-orang yang berusaha menghadirkan kebaikan dan menjaga persatuan umat ini.

اللَّهُمَّ احْفَظْ الْمَسْجِدَ الْأَقْصَى مِنْ مُؤَامَرَاتِ الْمُحْتَلِّينَ الْغَاصِبِينَ الظَّالِمِينَ، وَحَرِّرْهُ يَا رَبَّنَا مِنْ رِجْسِهِمْ، وَارْزُقْنَا الصَّلَاةَ فِيهِ وَهُوَ حُرٌّ عَزِيزٌ.

Ya Allah, jagalah Masjid Al-Aqsha dari konspirasi para penjajah yang merampas dan berbuat zalim. Bebaskanlah ia, wahai Rabb kami, dari noda dan kejahatan mereka. Karuniakanlah kepada kami kesempatan untuk shalat di dalamnya dalam keadaan merdeka dan mulia.

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فِلَسْطِين، وَكُنْ لَهُمْ عَوْنًا وَمُعِينًا، وَحَافِظْهُمْ بِحِفْظِكَ وَنُصْرَتِكَ، وَفَرِّجْ كُرْبَتَهُمْ، وَارْزُقْهُمْ الأَمْنَ وَالأَمَانَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ نَصْرَكَ الَّذِي وَعَدْتَهُمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina. Jadilah Engkau penolong dan pelindung bagi mereka. Jagalah mereka dengan penjagaan dan pertolongan-Mu. Hilangkanlah kesusahan mereka, karuniakanlah kepada mereka keamanan dan ketenteraman, serta turunkanlah kepada mereka pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Wahai Rabb kami, terimalah amal ibadah kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Lebih baru Lebih lama